Kamis, 30 September 2010

Seorang Tahfidz Yang Malang

Suatu hari pada hari Ahad 19/09/2010 ketika itu saya sedang bermain ke kota Tangerang, jujur saja itu kali pertama saya bermain ke kota itu..memang saya ke Tangerang ada maksud dan tujuan tertentu tetapi maaf saya tidak bisa mengungkapkan apa maksud dan tujuannya. Saya pergi ke Tangerang dari tempat tinggal saya di Jakarta Barat pukul 09:30 WIB. menggunakan bus Patas tujuan Slipi-Lippo, ketika itu suasana Jakarta masih sangat sepi, maklum masih banyak orang yang belum kembali ke Jakarta setelah mudik lebaran. Kira-kira pukul 10:05 WIB. saya sudah tiba di Lippo, "wah cepat ya?" iya karena bus itu melewati jalan Tol, mungkin kalau tidak lewat Tol jarak tempuh bisa 1jam bahkan lebih.

Sesampainya di Lippo saya langsung melaksanakan maksud dan tujuan saya pergi ke Tangerang, sekali lagi maaf saya tidak bisa mengungkapkan maksud dan tujuan saya di sini. Tak terasa hari sudah hampir sore..sekali lagi saya ungkapkan kalau saat itu kali pertama saya pergi ke Tangerang, jadi saya bingung untuk kembali ke rumah. Untunglah saya teringat oleh teman-teman pondok saya, say hubungi dia dan kebetulan rumahnya dekat dengan Lippo tepatnya di Perum 2. Saya akhirnya di jemput dan bermain sesaat di rumah teman saya itu.

Hari sudah mulai gelap, dan suara adzan maghrib berkumandang, saya langsung shalat maghrib berjamaah dengan teman saya...setelah shalat maghrib saya pamit pulang dan di antar sampai daerah Palem, di daerah itu banyak bus yang bertujuan ke Slipi. Ketika bus yang ke arah Slipi datang kira-kira pukul 18:55 WIB. saya pun langsung naik, saya duduk dengan tenang, dan bus itu pun berangkat. Ketika bus yang saya tumpangi sudah masuk Tol, di sinilah saya mulai terkejut (tetapi tidak sampai berteriak).

Saya duduk di samping jendela, jendela itu berbunyi sangat berisik karena bergesekan dengan udara di luarnya. Tiba-tiba di depan saya berdiri seorang bapak yang sudah cukup tua, dia berbicara mengeluarkan kata-kata, saat itu apa yang ia bicarakan tidak begitu jelas, entah karena memang usianya yang cukup tua atau memang suara jendela yang berisik..?!? dan tak lama kemudian orang yang sudah cukup tua itu membaca "basmallah" (bismillahirrahmanirrahiim).

Saya mulai bingung apa yang di lakukan oleh kakek itu? (mungkin orang yang sudah cukup tua itu lebih enak di panggil kakek). setelah membaca basmallah kakek itu melanjutkan membaca "ayat kursi" (jujur saya menjadi tambah bingung dengan sikap sang kakek), kemudian kakek itu melanjutkan bacaannya, beberapa ayat al-Qur'an terus ia bacakan (saya sendiri tidak tahu itu surat apa ayat berapa?). setelah hampir 1/2 jam sang kakaek membaca ayat-ayat al-Qur'an hati saya pun berkata "subhanallah, kakek ini hebat bisa hafal begitu banyak ayat-ayat al-Qur'an".

Sang kakek itu pun mengakhiri bacaan al-Qur'annya dengan membaca "shodaqallahuladzim". saya tersenyum...tetapi senyum saya tiba-tiba menghilang menjadi terharu karena melihat sang kakek mengangkat topinya dan berkeliling meminta sedikit uang dari para penumpang..saya pun memberikan kepada kekek itu (tidak saya sebutkan nominalnya). hati saya langsung berkata "betapa malangnya seorang tahfidz itu...ia menjadikan hafalannya untuk mengais rezeki" "seandainya sang kakek bisa mengikuti lomba menghafal al-Qur'an mungkin ia bisa jadi juara pertama dengan hadiah uang dan tak perlu lagi mengemis" tapi yang lebih miris dalam hati saya melihat sang kakek "kenapa harus ayat-ayat al-Qur'an? apakah ia tidak tahu kalau di dalam bus itu banyak orang non-muslim?" saya hanya malu dengan orang non-muslim, karena selama ini saya tidak pernah melihat mereka berdiri di dalam bus, membacakan kitabnya dan meminta sedikit rezeki...?

mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi motivasi khususnya buat saya pribadi sebagai muslim untuk bisa mencari rezeki yang layak di muka bumi ini...